Jumat, 18 Januari 2013

Gara-gara Rendang

               Sampai sekarangpun aku masih suka sekali dengan rendang, jadi jika kebetulan aku tidak membawa bekal makan siang ke kantor, biasanya  saat makan siang di kantor aku sering sekali membeli nasi rendang.  kebiasaanku yang selalu membeli nasi rendang ketika makan siang di kantor itulah yang akhirnya membuat semua teman-teman kantorku jadi mengetahui betapa sukanya aku rendang.  Teman-teman kantorku juga heran kepadaku yang bisa makan rendang berhari-hari tanpa merasa bosan sedikitpun.
Beberapa waktu yang lalu aku bercerita dengan Kevin temanku kerja kalau aku saat ini ingin sekali makan rendang dari  rumah makan besar yang cukup terkenal di kotaku.
“Vin, sayang ya, kantorku kita jauh dari rumah makan Sungguh Lezat.  Seandainya kantor kita dekat rumah makan tersebut, pasti Mbak selalu membeli nasi rendang disitu.” ujarku dengan pikiran menerawang membayangkan nikmatnya makan rendang dari rumah makan Sungguh Lezat.
“Mbak lagi ngidam apa?”ujar kevin sambil tertawa.
“Tidak.  Hanya lagi kepengen saja, karena Mbak sudah lama tidak makan nasi rendang dari rumah makan Sungguh Lezat.”
“Beli aja Mbak waktu pulang kerja nanti, kalau memang lagi ingin sekali.” Usul kevin.
“Maunya seperti itu, tapi satu bulan ini mbak lagi sibuk sekali karena ada pekerjaan yang sedang mbak kerjakan begitu pulang kantor.  Sementara rumah makan Sungguh Lezatkan berbeda arah dan jauh sekali dari rumah Mbak.” ujarku memberikan alasan.
“Ia sudah kalau begitu, Mbak tidak usah memikirkan rendang terus biar hilang keinginan makan rendang dari rumah makan Sungguh Lezat.”  Saran Kevin.
Akupun menuruti usulan temanku Kevin untuk tidak fokus dengan rendang yang aku idam-idamkan, walaupun tidak mudah untuk menghilangkannya dari pikiranku.  Beberapa hari kemudian ada seorang teman kantorku yang lagi ada rezeki ingin mentraktir kami semua.  Tetapi karena dia harus keluar kota, temanku itupun menitipkan sejumlah uang kepadaku untuk mentraktir kami semua. 
Akupun menawarkan beberapa pilihan kepada teman-temanku, tentang uang yang diberikan kepadaku untuk mentraktir kami semua.
“Pak Edo, ada kasih sedikit uang buat mentraktir kita.  Setelah pulang kerja nanti, kita makan di cafe, bagaimana?” tanyaku kepada teman-teman kantorku.
“Wah. Kalau hari ini saya tidak bisa, Mbak! karena saya ada acara, tapi tidak tahu dengan teman-teman yang lain?” ujar salah seorang temanku.
“Sama, aku juga tidak bisa.”kata temanku yang lain.     
“Ya sudah. Terpaksa uangnya kita bagi rata saja supaya dipergunakan sesuai keinginan masing-masing.” Ujarku lagi.
“Tidak boleh begitu Mbak.  Kalau memang uang itu diberikan Pak Edo buat mentraktir kita, ya kita pakai uang itu untuk makan bersama-sama. Bagaimana kalau uangnya kita pakai untuk membeli makan siang besok?” usul temanku Dewo.
“Aku setuju asal beli makan siangnya di rumah makan Sungguh Lezat ya! Soalnya Mbak lagi ingin sekali makan nasi rendang dari rumah makan Sungguh Lezat. Tapi kaliankan kerjanya dilapangan jadi apa bisa makan siang di kantor?”tanyaku lagi.
“Tidak masalah kok Mbak, bisa diatur. Tapi yang lain setujukan?” tanya Dewo.
“Ia kami setuju.” Jawab teman-temanku yang lain.
Akupun mulai membayangkan nikmatnya makan rendang kesukaanku, aku seperti orang yang mengidam saja.
Keesokan harinya karena buru-buru, aku tidak sempat sarapan pagi di rumah, dikantorpun karena sibuk, aku juga tidak sempat membeli sarapan.  Dan rasanya aku tidak sabar untuk menunggu makan siang karena sudah tidak sabar lagi ingin mencicipi rendang idamanku.
Ketika makan siangpun tiba, aku tidak sabar menunggu temanku Dewo pulang ke kantor membawa makan siang kami.  Ketika temanku Dewo akhirnya datang membawa bungkusan makan siang, aku langsung lemas karena dari bungkusan saja aku sudah tahu kalau itu bukan di beli dari rumah makan Sungguh Lezat karena bungkusan makanan dari rumah makan Sungguh Lezat ada tulisan dan logo rumah makan Sungguh Lezat.  Aku tanya kepada temanku kenapa dia tidak jadi membeli makan siang tersebut di rumah makan Sungguh Lezat. Alasan,  temankupun mencari-cari alasan supaya aku tidak marah.  Walaupun aku agak marah tapi aku coba kendalikan diri dan mulai makan siang tetapi ketika aku mulai makan, rasa marahku hampir meledak karena selain nasinya tidak enak, lauk rendangnya keras sekali dan benar – benar rasanya tidak enak.  Akupun tidak sanggup lagi memakannya.  Aku berusaha kuat menahan emosiku karena rasanya tidak enak dengan teman-temanku yang lain yang pasti berpikir aku berlebihan bisa sedemikian marah hanya gara-gara rendang.
Aku sendiri tidak tahu lagi, apa yang menyebabkan aku begitu marah, apa karena temanku tidak konsisten dengan perkataannya sementara aku begitu mengidam-idamkan makan rendang dari rumah makan Sungguh Lezat.  Atau karena perutku yang begitu lapar sementara aku sudah membayangkan makan rendang idamanku.  Atau juga karena aku lagi PMS, karena biasanya wanita yang lagi PMS emosinya cenderung tinggi.  Tapi aku pikir semua alasan tersebutlah yang membuatku jadi begitu marah, karena sebelumnya aku tidak pernah begitu marah hanya karena makanan.
Akhirnya aku memutuskan izin pulang kerja cepat dengan alasan sakit karena aku tidak mau kemarahanku meledak di kantor, apalagi penyebabnya hanya gara-gara rendang.  Dan juga aku memutuskan pulang karena memang perutku lapar sekali dan aku mau menstabilkan emosiku.  Waktu pulangpun aku memutuskan mampir membeli nasi rendang di rumah makan Sungguh Lezat untuk mengobati rasa amarahku dan juga untuk memuaskan keinginanku.  Aku berharap tidak seorang teman kantorku yang melihat aku mampir dulu ke rumah makan tersebut, apalagi bosku karena bisa ketahuan kalau aku berpura-pura sakit.
Itulah pengalaman yang tak terlupakan bagiku, kalau aku mengingat hal itu sekarang, aku menjadi malu sekaligus kejadian itu membuatku tertawa, kenapa aku bisa bereaksi dengan demikian hebatnya hanya gara-gara rendang. 

Note:Tulisan ini pernah aku ikut sertakan dalam lomba menulis gado-gado majalah Femina,  karena tidak menang maka aku coba masukkan saja ke blogku,hehehe...:)


Tidak ada komentar:

JUMP MENU

Jump Menu
!--Page Navigation Start-->