Selasa, 03 Juli 2012

Jangan tunggu Danau di Indonesia itu rusak dulu maka baru diperhatikan kelestariannya




Pengembangan kawasan perkotaan sekitar danau Laut Tawar Provinsi 
Aceh diduga jadi penyebab pencemaran air danau (Foto credit: VOA)


Kita mungkin kenal dengan istilah lebih baik mencegah daripada mengobati yang artinya sebelum sakit maka kita harus menjaga kesehatan dan berpola hidup yang sehat karena kalau sudah sakit pasti biaya yang dikeluarkan sangat banyak.  Demikian juga dengan masalah lingkungan hidup lebih baik memelihara dan menjaga daripada harus menyelematkan karena biasanya untuk menyelamatkan lingkungan hidup dibutuhkan biaya yang sangat mahal. Tapi yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya, banyak masalah lingkungan hidup yang terjadi di Indonesia dikarenakan kurangnya pengawasan atau kontrol dari pemerintah terhadap permasalahan lingkungan hidup.  

Indonesia merupakan negara yang bukan hanya  mempunyai kekayaan alam  yang kaya tapi juga mempunyai pemandangan alam yang indah yang bisa dijadikan objek wisata salah satunya danau.  Banyak sekali danau-danau  yang terdapat di Indonesia, diperkirakan jumlah danau di Indonesia sebanyak 840 danau besar dan 735 danau kecil (situ) maka hati saya sangat miris sekali ketika mengetahui ada 15 danau di Indonesia  yang saat ini dalam kondisi kritis bahkan ada satu danau yaitu danau Wanagon (Papua)  benar-benar sudah hilang setelah membaca artikel VOA tanggal 17 Juni 2012 yang berjudul Aktivis desak Pemerintah lebih serius tangani danau kritis di indonesia.

Setelah ada kerusakan danau yang parah, pemerintah Indonesia baru disibukkan dengan aksi penyelamatan danau,  seperti proses penyelamatan Danau Rawa Pening, yang baru membentuk gerakan penyelamatan pada tahun 2011 yang lalu.  Dan juga untuk menyelematkan ke 15 danau yang rusak tersebut memerlukan biaya yang sangat mahal yaitu bisa sampai triliunan rupiah.
 
Berdasarkan data Kementrian Negara Lingkungan Hidup ( 2009 ), terdapat sembilan danau yang kondisinya kritis dan memerlukan prioritas penanganan tapi ternyata sekarang danau yang kondisinya kritis itu meningkat menjadi 15 danau yang berarti danau yang kritis bertambah  sebanyak 6 danau.  Sementara kondisi danau-danau yang lain banyak yang sudah tercemar oleh berbagai limbah, mulai dari limbah rumah tangga, enceng gondok, sisa pakan ikan, hingga limbah organik.


Faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan danau antara lain:
1.  Kerusakan lingkungan dan erosi lahan yang disebabkan oleh penebangan hutan dan pengolahan lahan yang tidak benar, sehingga menimbulkan erosi dan sedimentasi dan menyebabkan pendangkalan serta penyempitan danau.
2.  Pembuangan limbah penduduk, industri, pertambangan dan pertanian yang menyebabkan pencemaran air danau.
3.  Penangkapan ikan dengan cara yang merusak sumber daya (overfishing).
4.  Pembudidayaan ikan dengan keramba jaring apung yang tidak terkendali sehingga berpotensi pembuangan limbah pakan ikan dan pencemaran air.
5.  Pengambilan air danau sebagai air baku ataupun sebagai tenaga air (PLTA) yang kurang memperhitungkan keseimbangan hidrologi danau sehingga mengubah karakteristik permukaan air danau dan sempadan danau.

Kerusakan danau yang terjadi antara lain adalah sebagai berikut:
1.  Pendangkalan dan penyempitan danau, yang telah merusak ekosistem danau bertipe paparan banjir.
2.  Pencemaran kualitas air danau yang menggangu pertumbuhan biota akuatik dan pemanfaatan air danau. Bila terjadi bencana arus balik (overturn) bahan pencemaran dari dasar danau terangkat ke permukaan air.
3.  Kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity).
4.  Pertumbuhan gulma air sebagai akibat pencemaran limbah organik dan zat hara (unsur Nitrogen dan Phosphor).
5.  Pertumbuhan alga atau marak alga (algae bloom) yang disebabkan proses penyuburan air danau akibat pencemaran limbah organik dan zat penyubur.
6.  Perubahan fluktuasi muka air danau, yang disebabkan oleh kerusakan DAS dan DTA serta pengambilan air dan tenaga air, sehingga mengganggu keseimbangan ekologis daerah sempadan danau.


Dari faktor-faktor penyebab kerusakan danau di atas, menurut saya diakibatkan beberapa hal sebagai berikut:
1.    Sebagian besar akibat dari kesalahan manusia yang begitu serakah yang tidak memperdulikan kelestarian lingkungan hidup demi mendapatkan keuntungan atau kekayaan pribadi.
2.    Masyarakat Indonesia yang tinggal di sekitar danau kebanyakan kurang perduli dengan masalah lingkungan hidup karena mereka menganggap itu bukan tanggung jawab mereka tetapi tanggung jawab pemerintah dalam hal memelihara lingkungan hidup.
3.    Eksploitasi sumber daya danau yang berlebihan yang dilakukan masyarakat di sekitar danau sehingga tidak memperhatikan lagi keselamatan danau.
4.    Masyarakat Indonesia yang tinggal di sekitar danau kurang mengetahui dampak kerusakan danau bagi lingkungan hidup dan juga perekonomian atau kesejahateraan mereka sendiri.
5.    Belum optimalnya pemerintah melalui Instansi yang terkait dalam hal pengawasan dan pemeliharaan danau-danau tersebut.
6.    Kurangnya kerja sama antara pemerintah pusat dengan pemerintah provinsi atau daerah dimana danau-danau tersebut berada untuk memelihara, mengawasi danau-danau tersebut.

Pemerintah dan masyarakat Indonesia hendaknya belajar dari kesalahan ini sehingga danau-danau Indonesia yang belum rusak hendaknya tetap dipelihara, diawasi, dijaga kelestariannya dan dilindungi jangan sampai rusak dan hilang danau-danau tersebut seperti ke-15 danau yang sedang diupayakan penyelamatannya ini, karena danau-danau tersebut merupakan kekayaan alam yang sangat mahal bagi negara kita.

Sumber:






Tidak ada komentar:

JUMP MENU

Jump Menu
!--Page Navigation Start-->